Kesetaraan Gender dalam Lingkungan Kerja

Dengan majunya IPTEK dan era globalisasi, keberadaan perempuan di masyarakat kini sangat esensial. Perempuan tidak lagi terkungkung dalam urusan domestik rumah tangga, namun justru mendobrak dan mengubah pola pikir masyarakat dalam menilai perempuan. Kini, tak jarang perempuan bekerja di bidang yang sebelumnya jarang digeluti oleh perempuan; seperti pilot, direktur, dan wirausaha.

Beberapa tahun terakhir, kesetaraan gender dalam masyarakat Indonesia sedang marak dibicarakan. Banyak yang masih menilai bahwa perempuan hanyalah sebagai istri, sebagai pengurus urusan rumah tangga yang tak luput dari peran yang lebih besar dari seorang suami. Tak jarang juga perempuan masih dilihat lebih rendah, sebagai pihak yang submisif — dituntut memiliki kesabaran, tutur kata yang lemah lembut, keibuan. Kini, banyak perempuan di Indonesia yang berusaha untuk mandiri. Kemandirian ini dalam arti bahwa ia bisa bekerja, mencari uang sendiri, meniti karirnya tanpa ada batasan tertentu.

Namun, kesetaraan gender ini merupakan sebuah gagasan yang gampang diputar pemahamannya. Pada dasarnya, perlu dipahami betul bahwa perempuan dan laki-laki adalah berbeda. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, terdapat dogma yang tidak bisa hilang terhadap dua gender tersebut. Laki-laki pun mempunyai dogmanya tersendiri, seperti dituntut untuk selalu menjadi pemimpin, tidak cengeng, menjadi tulang punggung keluarga yang bertanggung jawab. Banyak masyarakat awam yang memahami bahwa kesetaraan gender adalah penyamarataan keduanya tanpa ada batasan. Dari pemahaman tersebut, muncullah pandangan bahwa kesetaraan gender adalah hal yang salah. Padahal, kesetaraan gender adalah gagasan yang menginginkan agar keduanya bisa mendapatkan kesempatan dan perlakuan yang sama.

Di lingkungan kerja, kehidupan urban yang kini sangat terpengaruh oleh media sosial, disrupsi teknologi, dan globalisasi sudah sangat berubah dari 10-15 tahun yang lalu. Dengan segala tuntutan dari derapnya kehidupan, seperti ketatnya lowongan kerja, himpitan ekonomi yang kian menyesakkan, dan tingginya biaya hidup juga akan menuntut adanya kesetaraan gender dalam pekerjaan. Sayangnya, masih banyak kesenjangan yang terjadi di lingkungan kantor, contohnya ketidaksetaraan gaji, label pekerjaan feminis atau maskulin, bahkan pelecehan seksual. Untuk menghilangkan hal tersebut, seluruh karyawan dan perusahaan harus bekerja sama dalam membangun lingkungan kerja yang baik. Berikut beberapa kebijakan yang dapat diterapkan oleh perusahaan untuk memerangi kesetaraan gender di kantor.

Kesetaraan Gaji
Berikanlah gaji yang didasari oleh pengalaman kerja dan performa karyawan, bukan berdasarkan gender.

Kebebasan untuk Memilih
Beberapa karyawan di perusahaan pasti sudah berumah tangga atau menjadi orang tua. Maka dari itu, memberikan fleksibilitas dalam jam kerja akan sangat menguntungkan untuk para orang tua yang harus memprioritaskan dirinya di rumah terlebih dahulu. Dengan menentukan jumlah jam kerja dan batas waktu jam masuk dan pulang, setiap karyawan dapat mengatur jadwal mereka di rumah dan di kantor.

Keputusan Adil dan Manusiawi
Di saat seorang karyawan meminta izin untuk mengurusi hal pribadinya, dengarkan alasannya dan pertimbangkan permintaannya dengan melihat situasi yang sedang dialaminya. Prioritas setiap karyawan tentunya berbeda, dan perusahaan juga harus bisa memaklumi dan mengerti.

Viventis Indonesia percaya bahwa gender bukanlah suatu penghalang untuk membangun karir sesuai dengan aspirasi dan keinginanmu. Hubungi kami untuk mengetahui kesempatan yang sedang menunggumu di luar sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s